Awal Bahagia Desa Bahagia 27/05/2009 - 22:16:02 | Read 211 Time(s)
"BEKASI – Rumah bilik itu terletak berjejer. Warna dan ukurannya nyaris sama, coklat sewarna bambu dengan ukuran 4 x 8 meter. Agar air hujan tidak masuk, mereka membuat membuat penghalang kayu setinggi 20 sentimeter di pintu masuk. Di sanalah keluarga-keluarga besar itu tinggal, di Desa Bahagia, di suatu sudut kota Bekasi.
"
Satu rumah biasanya dihuni lebih dari 6 orang, keluarga Heman misalnya, dia harus menghidupi 7 anaknya dari hasil kerjanya sebagai petugas kebersihan komplek perumahan. Keluarga Taminuddin tak jauh beda, sepetak lahan yang ditanami kangkung dan bayam menjadi sumber penghasilannya untuk mencukupi kebutuhan 6 anaknya.
Tak heran bila urusan sekolah menjadi perkara yang mudah diabaikan. Sungguh wajar, mengingat untuk makan saja mereka kesusahan. Banyak ibu-ibu Desa Bahagia turut mencari nafkah dengan menjadi tukang cuci di Komplek Perumahan sekitar. Ketika pagi-pagi kebetulan lewat ke sana, maka iringan Ibu yang hendak berangkat mencuci menjadi pemandangan yang biasa. Nasib pendidikan anak-anak itu kian memprihatinkan ketika banyak dari ibu-ibu mereka juga buta huruf.
Untungnya masih ada yang peduli. Ibu-ibu karyawan Denso tergerak menyaksikan kondisi menyedihkan itu. Maka atas inisiatif Ibu Fitri, Ibu Susi dan Ibu Lulu didirikanlah Bimbingan Belajar (Bimbel) Gratis Luqmanul Hakim, 32 pelajar binaannya adalah penerima Beasiswa Amaliah Astra yang berasal dari keluarga kurang mampu di Babelan, Bekasi Utara. Sejak November 2008, setiap Ahad sore mereka rutin belajar setiap pekannya. Bimbel itu sebagai bagian dari program pembinaan kepada penerima beasiswa.
Ibu-ibu istri karyawan PT Denso yang tinggal di sekitar daerah itu bertindak sebagai pengajar. Tenaga pengajar semakin komplit setelah Bu Toyibbah dan beberapa rekan gurunya di SDIT setempat bergabung. Perlahan kondisi menyedihkan itu diatasi.
Kekurangan buku pelajaran dan minimnya perhatian keluarga membuat kemampuan belajar mereka tertinggal. "Masa anak kelas 5 SD, perkalian aja masih susah Pak," tutur Fitri. "Mereka juga pada kurang PD, malu-malu kalau disuruh nanya," lanjutnya.
Kondisi itu terus diperbaiki, kuncinya ternyata perhatian. Anak-anak itu diberi motivasi dan dibantu mengatasi kesulitan belajarnya melalui pendekatan yang berbeda. Di samping diajari di Bimbel gratis, para pengajar turun langsung ke keluarga siswa. Kini sedang digagas program "Belajar Sebelum Tidur", intinya setiap ibu atau bapak siswa wajib mendampingi putra-putrinya belajar dahulu sebelum tidur. Bagaimanapun, keluarga yang memegang peranan penting dalam peningkatan prestasi si anak.
Empat bulan program itu sudah berjalan, hasilnya sudah kelihatan. Kini mereka tambah PD. Di sekolah pun, beberapa diantaranya bahkan meraih peringkat tiga besar. Asal diberi kesempatan dan fasilit as, Anak-anak dari kalangan miskin pun bisa berprestasi. Semoga ini awal bahagia Desa Bahagia. (GG)
|