Berjuang Untuk Sekolah 20/05/2009 - 07:13:06 | Read 300 Time(s)
"Mimpi keluarga besar itu cuma satu, anak-anaknya bisa terus sekolah, biar bisa membaca, tidak seperti orang tuanya. ”Mudah-mudahan dengan sekolah nasib keluarga ini berubah juga,” tutur Ibu Usman, ibu sembilan anak kepada Lazis Amaliah Astra yang menyambanginya di Desa Kebalen, Bekasi Utara (14/5). "
 Dari sembilan anaknya, tinggal lima orang yang masih bersekolah, salah satunya adalah Robby Sugara, siswa kelas 1, SMK Taruna Bangsa, Bekasi. Untuk meringankan beban orang tuanya, Robby menjadi pemulung. Tiap hari seusai sekolah, Robby mengintari komplek perumahan sekitar kampungnya, memungut barang bekas apa saja yang sekiranya bisa di jual. Hasilnya tak seberapa, tapi jadi tambahan dana untuk meringankan biaya sekolahnya.
Keluarga Usman menggantungkan hidup dengan berjualan sayuran ke komplek perumahan sekitar kampungnya. Rata-rata penghasilan bersihnya adalah 30 ribu sehari. Padahal untuk makan saja, Ibu Usman harus menanak nasi 4,5 liter setiap harinya. Belum lagi untung ongkos anak-anaknya sekolah dan keperluan lainnya.
Ketika Robby masuk SMK, keluarga ini terpaksa mengutang pada bank keliling (rentenir). Sampai sekarang, utang itu belum terbayar lantaran bunganya yang tinggi. Bahkan surat-surat tanah dan rumah masih ditangan rentenir untuk jaminan. ”Ga apa-apa lah kepala jadi kaki, kaki jadi kepala, asal anak-anak terus sekolah.” Tegas Bu Usman.
Lain halnya dengan Hikmah, dia berjuang ke sekolah dengan menaklukan jarak. Untuk sampai ke SMAN I Tambun sekolahnya, dia bersepeda dari Desa Kebalen sampai pertengahan jarak perjalanan, ”Biar hemat ongkos, saya bersepeda dulu, baru naik angkutan,” ujarnya. Sama dengan Robby, dia berasal dari sebuah keluarga besar dengan 7 anggota keluarga. Bapaknya adalah penarik becak dengan penghasilan pas-pasan.
Robby dan Hikmah pantas resah, semangatnya untuk meneruskan sekolah seringkali terbentur kesulitan ekonomi. Datangnya Beasiswa Amaliah Astra kembali membangkitkan semangatnya, mereka tidak merasa sendirian lagi dalam mewujudkan cita-citanya, ada yang masih peduli pada jerih payahnya untuk sekolah. (Ganjar, Lazis) |