• "BUKANKAH kekayaan itu karena banyaknya harta benda tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati." (HR Bukhari - Muslim)
  • "ORANG yang terbaik dari antaramu ialah orang yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya kepada orang lain." (HR BUKHARI)
  • "HAK kewajiban seorang muslim atas muslim lainnya ada lima. Pertama menjawab salam....
  • ....Kedua menjenguk yang sakit. Ketiga mengantar jenazah. Keempat memenuhi undangan. Kelima mendo'akan orang yang bersin." (Muttafaq 'Alaih)
  • "BERSEDEKAHLAH supaya engkau diselamatkan dari api neraka walaupun hanya sebagian dari sebuah kurma." (HR BUKHARI)
  • "TIDAK sempurna iman seseorang diantaramu hingga mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri." (HR Bukhari - Muslim)
 
News Room
WEB STATISTIC
51
Hari ini
149
Kemarin
61,985
Total
Artikel
Miskin dan Kaya
20/05/2009 - 21:59:17 | Read 238 Time(s)

"Masalah si miskin dan si kaya pernah menjadi perdebatan sengit di kalangan para sufi. Siapa yang lebih baik di antara keduanya? Si miskin yang sabar atau si kaya yang pandai bersyukur dan murah hati?"

Sebagian sufi, seperti Harits al-Muhasibi dan Imam al-Ghazali, memberikan keutamaan (afdhaliyah) kepada si miskin. Sedang sufi lain memberikan keutamaan justru kepada si kaya dengan merujuk kepada sehabat-sahabat Nabi saw, yang hartawan, tapi dermawan, semacam Utsman Ibn 'Affan dan Abdul Rahman Ibn 'Auf. Sementara Ibn Taimiyah, pembaharu pramodern yang sangat kritis terhadap tasawuf, mengemukakan pemikiran baru dalam masalah ini. Dalam buku bertajuk Al-Shufiyah wal-Fuqara, Ibn Taimiyah memberikan keutamaan bukan kepada si kaya atau si miskin, melainkan kepada orang yang lebih bertakwa di antara keduanya. (Kitab Al-Shufiyah wal-Fuqara', Hlh. 25-26).

Menurut Ibn Taimiyah, bila kebaikan si miskin lebih banyak, maka ia lebih utama. Sebaliknya, bila kebaikan si kaya lebih banyak, maka si kaya lebih baik. Jika kebaikan mereka sama, maka kemuliaan mereka sederajat dan setingkat. Hanya, dalam kasus ini, tutur Ibn Taimiyah, si miskin lebih dahulu melangkah ke sorga daripada si kaya. Karena langkah si kaya tertahan sejenak di depan pintu sorga lantaran harus menyelesaikan perhitungan (hisab) mengenai harta dan kekayaan yang dimiliki.

Miskin dan kaya, seperti dikemukakan Ibn Taimiyah di atas, tidak menjadi dasar keutamaan seorang. Dasar mengenai itu, tetap iman dan takwa. Di sini, miskin dan kaya hanya dapat diidentifikasi sebagai alat uji semata. Sebagai alat uji, keduanya diyakini dapat memberi pengaruh terhadap perilaku manusia, baik maupun buruk. Pengaruh ini, tentu sangat bergantung kepada kesiapan mental penerima ujian. Untuk itu, ada manusia yang tidak siap dengan kemiskinan, sehingga kemiskinan, seperti kata Nabi saw, dapat mendekatkan manusia kepada kekufuran. (HR Baihaqi). Sebaliknya, banyak pula manusia yang tidak siap dengan kekayaan, sehingga kekayaan membuat dirinya menjadi pelit dan sombong. Inilah makna firman Allah, ''Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.'' (Al-'Alaq: 6-7).

Sebagai alat uji, kefakiran dan kekayaan itu tidak kekal, tapi bersifat dinamis, artinya berubah dan berputar. Nabi Muhammad sendiri, pada mulanya tergolong miskin, tapi kemudian Allah swt membuat dirinya kaya (Al-Dhuha: 9). Maksud kaya di sini, menurut sebagian besar ahli tafsir, adalah kaya harta. Hal ini, karena perkataan 'dibuat kaya' (Aghna) dalam ayat ini disandingkan dengan perkataan miskin ('Aailan).

Namun, menurut Abdullah Yusuf Ali, kaya di situ lebih menunjuk pada kekayaan rohani dan spiritual. Dengan kekayaan ini, lanjut Yusuf Ali, Nabi saw bukan saja dapat mengatasi kebutuhan-kebutuhannya yang bersifat duniawi, tetapi juga mampu memusatkan semua perhatian dan seluruh waktunya untuk bekerja dan beribadah kepada Allah swt. Wallahu a'lam! - ahi

A Ilyas Ismail, MA (Republika, 14/5)

Back to List
keuangan.jpg
kalkulator.jpg
Login Donatur
Email / ID Muzakki :
Password :
Ingin Bergabung ?!
Kehilangan Password ?
registrasi.jpg
konfirmasi_donasi.jpg
konfirmasi_flexicash.jpg
cek_donasi.jpg
"Alhamdulillah, terima kasih telah berzakat bersama kami, semoga Allah memberikan rizki berlimpah dan keselamatan kepada kita semua, amiin."
  • 26/12/2009
    DITHA
    MZ000505

    04/01/2009
    MOCHAMAD AMIN
    MZ000037

    31/12/2009
    DEDE ANDARSO
    MZ000501

  • 30/12/2009
    PONGKI PAMUNGKAS
    MZ00000002

    30/12/2009
    INANDA TIAKA PUTRI
    MZ000266

    29/12/2009
    DWI RUDIMAN
    MZ000500

  • 29/12/2009
    OSSHI GHONIE PRASTYO
    MZ000118

    29/12/2009
    MOCHAMAD HUSNI
    MZ000117

    29/12/2009
    INTAN MANTILI
    MZ000499

  • 28/12/2009
    ADE ABDULLAH
    MZ000384

    28/12/2009
    IBNU HAJAR
    MZ000381

    28/12/2009
    DIAN VEKTORENDRA
    MZ000386

  • 28/12/2009
    RONY HAPSORO
    MZ000387

    28/12/2009
    NURHAIDI
    MZ000385

    28/12/2009
    ZULFADILLAH
    MZ000383

  • 28/12/2009
    AZIS MUFTIYATNO
    MZ000498

    28/12/2009
    FISKA KUSUMAWATI
    MZ000116

    28/12/2009
    DJOKO PRABOWO
    MZ000058

  • 28/12/2009
    POLITEKNIK MANUFAKTUR ASTRA
    MZ000497

    28/12/2009
    TRI HARNITO
    MZ000388

    30/12/2009
    ZIKO
    MZ000490

  • 30/12/2009
    HARIS
    MZ000489

    23/12/2009
    ANDY HIDAYAT
    MZ000488

    24/12/2009
    ARIF
    MZ000343

  • 24/12/2009
    ENI
    MZ000481

    24/12/2009
    YUNI
    MZ000480

    24/12/2009
    SAMARI
    MZ000479

  • 24/12/2009
    YUSUF BAHTIAR
    MZ000317

    24/12/2009
    DENI ANDRIAN
    MZ000478

    24/12/2009
    RAHMAT
    MZ000477


Transfer via :
Bank Permata Syariah
Rek. Zakat097.0619.380
Rek. Infaq Shodaqoh097.0619.399
This site is property of www.amaliah-astra.com © 2009 - 2010 Powered by : Team ICT Yayasan Amaliah Astra