Kedermawanan 16/02/2009 - 08:22:16 | Read 726 Time(s)
"Dermawan adalah sifat yang sangat terpuji lagi mulia. Culuplah bagi kita untuk memahaminya, bahwa Allah SWT telah menasbihkan diriNya dengan sifat "al-Karim", Yang Maha Dermawan."
Dermawan adalah sifat yang sangat terpuji lagi mulia. Cukup lah bagi kita untuk memahaminya, bahwa Allah swt telah menasbihkan diriNya dengan sifat "al-Karim", Yang Maha Dermawan.
Kalau lah tidak karena kedermawanan Allah, kita pasti tidak memiliki apa-apa, tidak kesejahteraan, tidak pula ketentraman. Dermawan juga merupakan sifat para Nabi, para sahabat, serta orang-orang saleh. Seorang yang dermawan akan ditutupi Allah aib dan keburukannya. Bahkan kebaikan demi kabaikan akan diperolehnya. Seorang penyair Arab pernah mengatakan "Seorang dermawan, apabila engkau memujinya, maka semua orang akan ikut memujinya, namun apabila engkau mencelanya, akan kau dapati bahwa hanya engkau sendiri yang mencelanya".
Dermawan artinya rela berkorban di jalan Allah dengan harta atau bahkan jiwa dan raga. Dermawan bisa terwujud dalam bentuk: uluran tangan untuk memberi sedekah, infak, zakat, bantuan dana pembangunan masjid, sumbangan ke sekolah; ke pasantren; panti asuhan, dan juga termasuk membantu para pengungsi, korban perang dan lain sebagainya. Dermawan merupakan cerminan rasa solidaritas kemanusiaan dari seorang hamba Allah Yang Maha Kasih kepada hamba lainnya yang memerlukan.
Tingkat tertinggi dari kedermawanan adalah "Iitsar", yaitu memberikan sesuatu kepada orang yang lebih memerlukan, padahal ia sendiri masih memerlukannya. Inilah yang digambarkan Allah swt dalah surat al Hashr ayat 9 dalam menceritakan kedemawanan kaum Anshar (penduduk Madinah) kepada kaum Muhajirin yang datang dari Makkah untuk berhijrah.
"Karena itu, dalam situasi sesulit apa pun, seorang mukmin akan selalu berusaha menjadikan tangannya di atas, dalam artian ia akan selalu berusaha untuk memberi kepada orang lain yang membutuhkan. Ia akan selalu berusaha sesuai dengan kemampuannya menempatkan dirinya sebagai mushaddiq ( orang yang bersedekah ) atau munfiq ( orang yang berinfak ), bukan sebaliknya, tangannya selalu berada di bawah, mengandalkan hidup dan kehidupannya pada belas kasihan orang lain," tutur KH.Didin Hafidhuddin MSc, dalam tulisannya ‘Tangan di Atas‘. Sebab Rasulullah SAW bersabda, "Ketahuilah sesungguhnya semulia-mulianya orang mukmin adalah yang paling rajin bangun malamnya ( untuk beribadah ) dan yang paling gagah adalah yang tidak mengandalkan hidupnya pada belas kasihan orang lain" (HR.Baihaqi dari Jabir).
(Disarikan dari berbagai sumber)
|