Seperti Makan Buah Pisang dan Tandannya 18/02/2009 - 00:45:42 | Read 433 Time(s)
"Beberapa waktu yang lalu Prof Dr Jaih Mubarok, seorang tokoh muda betawi yang baru berumur 40 tahun menceritakan pertemuannya dengan seorang Kyai di sebuah pesantren ketika sedang menyusun tesisnya."
 Beberapa waktu yang lalu Prof Dr Jaih Mubarok, seorang tokoh muda betawi yang baru berumur 40 tahun menceritakan pertemuannya dengan seorang Kyai di sebuah pesantren ketika sedang menyusun tesisnya. Beliau diingatkan tentang hak orang lain yang ada pada harta dan penghasilan kita.
Sang Kyai bercerita sesungguhnya JIka kita membeli setandan pisang, maka kita juga telah membeli kulit dan batang tandan dari pisang tersebut namun belum ada hingga saat ini yang mencoba untuk juga memakan kulit serta tandan pisang yang ia beli walaupun tandan dan kulit tersebut sudah ia beli dengan harta yang halal. Namun kita semua sadar bahwa jika kita memaksakan diri untuk memakan kulit pisang dan tandannya maka akan terjadi masalah dengan diri kita, mungkin minimal sakit perut karena telah memakan seuatu yang tidak layak dimakan.
Begitu pulalah sesungguhnya dengan harta/gaji yang telah kita dapatkan dari hasil kerja keras kita, sesungguhnya ia ibarat setandan pisang yang masih lengkap dengan tandan serta kulit pisangnya yang telah kita beli dengan tenaga dan fikiran kita. Kita akan baik-baik saja jika memakan pisang itu secara bijak dalam arti hanyamemakan isinya saja dan tidak memakan kulit dan tandannya. Kulit dan tandan pisang adalah simbol bahwa di dalam harta kita sesungguhnya ada hak orang lain, jika kita memaksakan diri untuk menyimpan atau memakannya maka pasti kita akan "sakit" karena telah memakan sesuatu yang tidak sepatutnya kita makan. Sudikah kita memakan kulit atau tandan pisang, walaupun kita telah membelinya dengan harta yang halal?
Sakit dalam tanda kutip mungkin bukan hanya sekedar sakit fisik namun bisa saja akan berubah menjadi banyaknya masalah yang akan menghabiskan banyak biaya atau menguras fikiran dan tenaga kita. Begitulah Allah SWT menjadikan zakat sebagai salah satu pilar dalam agama ini, zakat sangat identik dengan kepedulian sosial yang juga berarti luas dalam bentuk infak dan shodaqoh.
Marilah kita menyadari bahwa disetiap harta kita sesungguhnya ada hak orang lain dan sungguh Allah telah menjanjikan banyak hal dalam Al Qur'an bagi siapa saja yang bersedia dengan ikhlas menyadari hal ini dan memberikan hak orang lain yang ada padanya. Bahkan Rasulullah Muhammad SAW menyatakan tidak akan berkurang harta yang diinfakkan di jalan Allah SWT.
Semoga kita bisa menjadi hamba-hamba-Nya yang Sholeh dan Sholihah serta berbahagia di dunia dan akhirat.
Abu Afifah Mu'minah
|